MPASI Kurang Beragam Jadi Tantangan Penanganan Stunting

MPASI Kurang Beragam Jadi Tantangan Penanganan Stunting

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Pemenuhan gizi melalui makanan pendamping air susu ibu (MPASI) menjadi salah satu perhatian dalam penanganan stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rapak Mahang, Kutai Kartanegara (Kukar). Variasi makanan, khususnya sumber protein, perlu diperhatikan agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi selama masa pertumbuhan.

Ahli Gizi UPTD Puskesmas Rapak Mahang, Andini, menjelaskan salah satu persoalan yang ditemukan dalam konsultasi gizi adalah pola makan anak yang belum beragam. Ada anak yang cenderung memilih makanan tertentu sehingga asupan protein yang diterima kurang bervariasi.

"MPASI perlu disusun dengan beragam sumber protein, bukan hanya mengandalkan satu jenis makanan secara berulang," ungkap Andini.

Andini menjelaskan, keragaman MPASI tersebut menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.

“Biasanya ada beberapa anak yang tidak suka mengonsumsi protein tertentu. Padahal, saat anak sudah mulai makan, MPASI-nya harus memiliki sumber protein yang lebih beragam,” kata Andini.

Ia mencontohkan pemberian makanan yang hanya mengandalkan telur pada setiap waktu makan. Meski telur merupakan sumber protein, pola konsumsi yang monoton perlu diperbaiki dengan mengenalkan variasi bahan pangan sesuai kebutuhan dan usia anak.

Andini menambahkan, pemenuhan gizi pada masa awal kehidupan perlu menjadi perhatian keluarga karena berkaitan dengan proses pertumbuhan anak. Orang tua perlu memahami bahwa kualitas makanan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya makanan yang dikonsumsi. 

"Kecukupan dan keragaman zat gizi di dalamnya juga menjadi hal yang wajib diperhatikan," lanjut Andini.

Konsultasi di layanan gizi menjadi salah satu sarana untuk mengevaluasi pola makan anak sekaligus membantu keluarga memahami kebutuhan nutrisi yang sesuai. Melalui pendampingan tersebut, orang tua dapat memperoleh arahan untuk memperbaiki pola pemberian makan berdasarkan kondisi masing-masing anak.

Andini berujar, Upaya itu menjadi bagian dari penanganan stunting yang tidak hanya bertumpu pada layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan perubahan kebiasaan di rumah. 

"Perbaikan pola MPASI diharapkan mendukung pemenuhan gizi anak secara berkelanjutan selama masa pertumbuhan," pungkasnya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi).