Produk Guleku Desa Tuana Tuha Hasilkan Belasan Juta Tiap Bulannya

Produk Guleku Desa Tuana Tuha Hasilkan Belasan Juta Tiap Bulannya

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan memiliki produk olahan UMKM yang terbuat dari gula aren. Olahan produk tersebut selama satu bulan dapat menghasilkan belasan juta rupiah dari hasil penjualan dan telah ditetapkan sebagai oleh-oleh khas Desa Tuana Tuha. 


Kepala Desa (Kades) Tuana Tuha, Tommy, gula aren merupakan salah satu potensi Desa Tuana Tuha. Dan gula aren tersebut merupakan salah satu produksi turun temurun orang tua disini. 


"Dahulu orang tua dulu disini sudah memproduksi gula merah dan belum ada nilai jualnya. Jadi sejak 2020 kami berinisiatif melalui UMKM memproduksi gula aren menjadi gula semut dengan nama produk Guleku," kata Tommy, Jumat (14/4/2023).


Ia mengungkapkan, pada awal pengolahan gula aren itu hanya baru memiliki satu varian saja. Dan sekarang sudah berkembang dan memiliki empat varian diantaranya, gula semut original, gula semut dicampur jahe merah, lalu dibuat cemilan yang mana didalamnya itu ada semacam parutan kelapa dan langsung bisa dimakan. 


Sedangkan untuk perizinan, Tommy mengatakan itu sudah ada terbit Nomor Induk Berusaha (NIB) , Pangan Industri Rumah Tanggar (PIR-T) dan sertifikasi halalnya. "Jadi potensinya itu sudah ada dari gula merah menjadi gula semut, yang dulunya mungkin harganya cuma per kg Rp 28 ribu sekarang harganya dari Rp 45 ribu - 50 ribu per kg dengan adanya inovasi dari umkm tersebut," ungkapnya. 


Selain itu, untuk proses pemasarannya UMKM Desa Tuana Tuha telah menjalin kerjasama dengan Dinas Perkebunan Kukar untuk dapat menjual produk Guleku ke berbagai hotel-hotel.  Dan juga bakal disebar di mini market yang ada di kota. 


"Dari hasil kerjasama tersebut kami berhasil menerima keuntungan Rp 12 juta setiap bulannya. Lalu ada kerjasama sama dengan reseler atau toko-toko dibanderol dengan harga Rp 15 ribu per pcs, " sebutnya. 


Walaupun hasil dari produksi gula aren ini belum dapat menjadi sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes), sebab BUMDes belum mampu mengelola secara maksimal. Maka dari itu, BUMDes hanya berperan dalam memasarkan produk Guleku. (adv/diskominfo/kkr/kn1/rhi)