Semarak Expo Erau 2026 di Stadion Rondong Demang: Dari Pentas Budaya Hingga Geliat Ekonomi Rakyat

Semarak Expo Erau 2026 di Stadion Rondong Demang: Dari Pentas Budaya Hingga Geliat Ekonomi Rakyat

kukarnews.id, TENGGARONG —  Ribuan pengunjung mulai memadati halaman parkir Stadion Rondong Demang Tenggarongyang menjadi pusat digelarnya Expo Erau Adat Kutai tahun 2026. Pameran ekonomi kreatif hingga produk UMKM ini berlangsung selama digelarnya Erau Adat Kutai Tahun 2026, tepatnya pada 20 hingga 27 September 2026, dan menjadi salah satu daya tarik utama dalam pesta budaya tahunan Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

Pentas seni yang dipusatkan di dua lokasi yakni di panggung utama halaman Stadion Rondong Demang dan halaman Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Adanya gelaran seni di panggung utama expo ini diharapkan menjadi magnet keramaian setiap sore hingga malam hari. Berbagai pertunjukan disuguhkan untuk menghibur pengunjung expo, mulai dari tarian tradisional, musik kontemporer, hingga penampilan bakat seni non-akademik dari para pelajar di Kutai Kartanegara.

 

Kehadiran panggung seni ini memberikan ruang bagi para seniman lokal, sanggar seni daerah, hingga kelompok musik pemuda untuk menampilkan karya terbaik mereka. Suguhan penampilan ini menciptakan suasana perayaan yang hangat dan meriah di tengah riuk-pikuk kegiatan jual-beli UMKM. 

 

Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri mengapresiasi perpaduan antara pengembangan ekonomi kreatif dan pelestarian seni budaya. Menurutnya, dengan adanya gelaran expo di area stadion ini memiliki dampak ganda bagi kesejahteraan masyarakat dan penguatan identitas daerah.

 

"Keberadaan stan-stan expo dan panggung seni di Stadion Rondong Demang ini bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat serta menggeliatkan daya beli warga,” ucapnya.

 

Selain itu dirinya menyebut adanya pentas  seni ini menjadi wadah untuk memberikan apresiasi para seniman yang memeriahkan pelaksanaan rangkaian Erau  Adat Kutai Tahun 2026. “Kami dorong UMKM di Kutai Kartanegara agar menjadikan momentum Erau ini sebagai etalase produk unggulan daerah yang mampu bersaing. Selain itu, saya sangat kagum melihat karya dan kreativitas seniman serta pelajar yang ditampilkan melalui pentas seni di panggung utama—ini membuktikan potensi bakat non-akademik generasi muda kita sangat luar biasa,” jelasnya. 

 

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Erau Adat Kutai, Heriansyah, menjelaskan bahwa penataan kawasan Stadion Rondong Demang telah dirancang secara matang agar dapat memfasilitasi kegiatan pameran sekaligus menyajikan tontonan seni berkualitas bagi masyarakat luas.

"Stadion Rondong Demang kita pilih sebagai pusat kegiatan Expo Erau karena representatif untuk mengakomodasi stan-stan UMKM, dinas/instansi, serta pendirian panggung utama pertunjukan seni. Kami merancang tata letak area agar masyarakat nyaman saat berkunjung maupun saat menikmati hiburan panggung,” jelasnya.

 

“Selain menampilkan seni warisan peradaban Kutai dan kreasi anak muda, pelaksanaan Expo ini membuktikan bahwa perhelatan Erau memberikan dampak langsung secara ekonomi, budaya, dan sosial bagi masyarakat,” pungkasnya.

 

Selama delapan hari gelaran Expo Erau 2026, area panggung utama di Stadion Rondong Demang selalu dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan keberagaman seni pertunjukan lokal sembari menikmati kuliner khas daerah. Melalui perpaduan pelestarian adat, ruang ekspresi seni, dan penguatan ekonomi kerakyatan, Expo Erau di Stadion Rondong Demang berhasil menjadi wadah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan manfaat nyata dan membanggakan bagi seluruh lapisan masyarakat Kutai Kartanegara.

 

Pelaksanaan Festival Erau Adat Kutai 2026 ini mengusung tema "Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya". Tema tersebut mencerminkan kebersamaan, persatuan, serta kedekatan antara pimpinan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan pemerintah daerah dengan seluruh lapisan masyarakat.  (adv/erau/kn1/rhi)

Penampilan pertunjukan berjudul Tari Topeng Kemindu, salah satu dari 12 Tari Topeng Klasik Kutai, yang merupakan karya budaya dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. (Foto : IG djayawinatacommunity)