50 Balita Stunting di Timbau Jadi Fokus Penanganan
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Kelurahan Timbau menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pemantauan stunting Puskesmas Rapak Mahang. Dari 273 balita yang tercatat di wilayah tersebut, sebanyak 50 anak mengalami stunting.
Kepala Puskesmas Rapak Mahang, Siti Aminah, menyebut jumlah tersebut menghasilkan persentase stunting sebesar 18,38 persen. Angka itu berada sedikit di atas persentase keseluruhan wilayah kerja Puskesmas Rapak Mahang.
“Timbau dari 273 balita ada 50 yang stunting atau 18,38 persen,” ujar Siti.
Data tersebut merupakan bagian dari total 955 balita yang berada di empat kelurahan dalam wilayah kerja Puskesmas Rapak Mahang. Secara keseluruhan, terdapat 165 balita yang tercatat mengalami stunting atau 17,27 persen.
Siti mengatakan pemantauan terhadap anak-anak yang sudah masuk dalam data stunting terus dilakukan. Hal ini penting karena sebagian besar kasus yang tercatat merupakan status stunting lama yang masih membutuhkan penanganan dan pengawasan pertumbuhan.
“Ini stunting-stunting kasus yang lama,” katanya.
Menurutnya, penguatan program penanganan stunting dalam beberapa tahun terakhir telah diarahkan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Intervensi dilakukan untuk mencegah persoalan pertumbuhan berkembang menjadi kondisi kekurangan gizi yang lebih berat.
Puskesmas juga tidak bekerja sendiri. Pemantauan melibatkan kader Posyandu dan pemerintah kelurahan, sementara keluarga menjadi bagian utama dalam pelaksanaan intervensi di tingkat rumah tangga.
"jadi memang lintas sektor, dan memerlukan perhatian banyak pihak dalam penanganan stunting ini," jelas Siti.
Selain pemantauan pertumbuhan, balita stunting mendapatkan dukungan melalui pemberian makanan tambahan. Pemeriksaan medis juga menjadi bagian dari penanganan yang dilakukan terhadap anak-anak tersebut.
Siti mengatakan pihaknya berupaya memastikan setiap kasus mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing agar data 50 balita di Timbau tidak sekadar menjadi angka didalam laporan.
"Tetapi menjadi dasar kita untuk menentukan intervensi yang dibutuhkan setiap anak," pungkasnya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)
adminKN 