Pendampingan Pola Asuh dan Monitoring Ketat Jadi Strategi Puskesmas Loa Ipuh Tangani Gizi Balita
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Masalah gizi buruk dan stunting pada balita tidak hanya bersumber dari keterbatasan bahan pangan, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan harian dan pola pengasuhan di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan menjadi instrumen penting dalam penanganan kesehatan anak.
Puskesmas Loa Ipuh Tenggarong terus berupaya memastikan bahwa seluruh orang tua yang memiliki balita terindikasi masalah gizi mendapatkan pembinaan intensif. Pembinaan ini mencakup edukasi mengenai pemenuhan porsi makan ber gizi seimbang serta penerapan pola hidup bersih dan sehat di rumah.
Pimpinan Puskesmas Loa Ipuh Tenggarong, Dokter Mariyati, menegaskan bahwa pemberian edukasi mengenai pola asuh dilakukan secara menyeluruh tanpa memandang latar belakang sosial maupun usia dari orang tua balita.
"Jadi ya, jadi sebenarnya kalau ada balita bermasalah gizi, sebenarnya tanpa melihat latar belakang ya, atau melihat kondisi orang tua itu sebenarnya kita wajib melakukan edukasi, sosialisasi, salah satunya adalah pola asuh," tutur dr. Mariyati.
Meski edukasi berlaku umum, pendampingan ekstra tetap berikan kepada pasangan orang tua yang berusia tergolong muda. Orang tua muda dinilai membutuhkan perhatian serta pengingat yang lebih konsisten agar mampu menerapkan pola pengasuhan gizi anak secara optimal.
Selain aspek edukasi, kunci keberhasilan penanganan balita bermasalah gizi terletak pada pengawasan berkala yang ketat. Pihak puskesmas melibatkan jaringan petugas kesehatan di tingkat dasar serta kader masyarakat untuk memantau perkembangan balita sasaran secara langsung.
Monitoring ketat diselaraskan dengan bantuan para kader dan petugas di Pos Persalinan Desa (Polindes) maupun Puskesmas Pembantu (Pustu). Balita yang membutuhkan penanganan khusus akan dipantau perkembangan berat dan tinggi badannya secara periodik guna memastikan intervensi gizi berjalan efektif.
Melalui pemantauan yang terintegrasi bersama lintas sektor di lapangan, kondisi tumbuh kembang balita bermasalah gizi dapat terus terkontrol. Pola pendampingan berkelanjutan ini diharapkan mampu menurunkan tingkat kesakitan serta mengembalikan status gizi balita ke kondisi normal. “Jadi kita juga kuatkan monitoringnya bersama lintas sektor, jadi misalnya kita bantu-bantu kader, teman-teman di Pustu Polindes, bahwa ini mungkin ada di antara beberapa balita ada mungkin yang harus perlu perhatian khusus,” tutupnya. (adv/diskominfokukar/stg/kn1/rhi)
adminKN 