Honor Penari Massal Erau 2026 Dibayar, Disdikbud Kukar Ingin Seni Jadi Ruang Penghidupan
kukarnews.id, TENGGARONG - Sebanyak 350 penari yang terlibat dalam pertunjukan kolosal Erau Adat Kutai 2026 akhirnya menerima honor atas kerja mereka selama proses persiapan hingga pementasan. Pembayaran honor tersebut dilakukan pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Masing-masing penari menerima honor sebesar Rp1,4 juta. Pembayaran ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian kerja para penari dalam pertunjukan tari massal bertajuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam yang dipentaskan pada Erau 2026.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara, Heriansyah, mengatakan pemberian honor bukan semata bentuk penghargaan setelah pertunjukan selesai. Menurut dia, keterlibatan para penari harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kebudayaan yang dapat menopang keberlanjutan profesi pelaku seni.
Ia mengatakan ruang pertunjukan seperti Erau semestinya memberikan kesempatan bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus mengembangkan kemampuan dan inovasi.
“Ini tidak hanya sekadar tampil. Kegiatan ini harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan para pelaku seni,” kata Heriansyah usai memberikan pengarahan kepada para penari di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Jumat sore.
Menurut Heriansyah, ekosistem seni dan budaya tidak dapat dibangun hanya oleh pemerintah. Ia menyebut masyarakat, budayawan, pelaku usaha, pejabat, hingga tokoh masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan.
Pria yang juga sekaligus Ketua Panitia Erau 2026 itu menyampaikan apresiasi kepada seluruh penari yang telah mengikuti rangkaian latihan dan pertunjukan. Mereka, kata dia, telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mempersiapkan pertunjukan yang menjadi salah satu bagian penting dalam Erau 2026.
Ia meminta para penari tidak melihat keterlibatan dalam Erau hanya sebagai aktivitas sesaat. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk mengambil peran dalam berbagai produksi seni pada masa mendatang.
“Banggalah adik-adikku seluruhnya yang telah berkontribusi, meluangkan waktunya, menyiapkan tenaganya dan berkonsentrasi selama proses latihan maupun saat penampilan,” kata dia.
Heriansyah mengatakan Disdikbud Kukar akan menjadikan pengembangan pelaku seni sebagai salah satu perhatian dalam program kebudayaan daerah. Ia mengaitkannya dengan visi dan misi Kukar Idaman yang mencakup pemberian stimulus kepada pelaku seni dan budaya.
Namun, pelaksanaan program pada tahun berikutnya tetap akan bergantung pada kondisi fiskal daerah. “Kita sama-sama berdoa, mudah-mudahan tahun 2027 kondisi keuangan kita membaik,” ujar Heriansyah.
Ia berharap perbaikan kondisi keuangan daerah dapat membuka lebih banyak ruang pertunjukan bagi seniman Kukar. Dengan demikian, pelaku seni tidak hanya memperoleh panggung, tetapi juga kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dari karya dan keterlibatan mereka dalam produksi kebudayaan.
Pria tersebut juga mengungkap rencana pembangunan pusat budaya Kutai di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Menurut dia, keberadaan pusat budaya tersebut berpotensi menjadi ruang baru bagi generasi seniman Kukar untuk memperkenalkan kebudayaan daerah.
“Tidak menutup kemungkinan adik-adik kalian nanti akan berkontribusi di sana,” katanya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Kukar dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Heriansyah menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam produksi Penjaga Tahta di Tepian Mahakam. Mulai dari pimpinan produksi, koreografer, pelatih, komposer, tenaga pendukung produksi hingga para penari.
Sementara, Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax, mengatakan pertunjukan tahun ini memiliki arti tersendiri bagi tim produksi. Ia menyebut dirinya kembali terlibat dalam produksi Erau setelah vakum selama sekitar 23 tahun.
Misra mengatakan produksi Erau terakhir yang ditanganinya sebelum 2026 berlangsung pada 2003. Karena itu, kembalinya produksi tari massal dalam Erau tahun ini menjadi pengalaman yang dinilai berkesan.
Ia juga mengapresiasi respons masyarakat terhadap pertunjukan Penjaga Tahta di Tepian Mahakam. Menurut Misra, respons positif yang diterima melalui media sosial menjadi salah satu indikator bahwa pertunjukan tersebut mendapat perhatian publik.
“Tidak ada yang negatif. Di media sosial semua positif untuk Penjaga Tahta di Tepian Mahakam,” terangnya.
Pertunjukan itu tidak hanya melibatkan penari dari satu latar kebudayaan. Misra menyebut sejumlah pelatih dan pendukung dari sejumlah komunitas lokal. Termasuk dari sejumlah etnis Dayak, di antaranya Dayak Modang, Dayak Kenyah dan Dayak Benua, turut memberikan warna dalam produksi.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut, kata dia, menjadi bagian dari proses membangun pertunjukan yang merepresentasikan keberagaman kebudayaan di Kalimantan Timur.
Misra juga menyampaikan terima kasih kepada para penari yang tampil saat pembukaan Erau pada 20 September 2026. Ia menilai kerja keras mereka menjadi salah satu faktor penting yang membuat pertunjukan dapat terlaksana. (*/kn1/rhi)
adminKN 