Jahab Catat Persentase Stunting Terendah di Rapak Mahang
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Kelurahan Jahab mencatat persentase stunting terendah dibandingkan tiga kelurahan lainnya yang masuk wilayah kerja Puskesmas Rapak Mahang. Dari 112 balita yang terdata, sebanyak 15 anak mengalami stunting.
Kepala Puskesmas Rapak Mahang, Siti Aminah, mengatakan kondisi tersebut membuat persentase stunting di Jahab berada pada angka 12,29 persen.
“Jahab total dari 112 balita ada 15 yang terkena stunting atau 12,29 persen,” kata Siti.
Angka tersebut menjadi yang paling rendah di antara empat kelurahan yang dipantau Puskesmas Rapak Mahang. Sebagai perbandingan, angka keseluruhan wilayah kerja puskesmas mencapai 17,27 persen dari 955 balita yang diperiksa.
Sementara itu, wilayah lain mencatat proporsi yang lebih tinggi. Bukit Biru memiliki 57 kasus dari 292 balita, sedangkan Timbau mencatat 50 kasus dari 273 balita.
Meski memiliki persentase terendah, Siti menegaskan bahwa setiap anak yang masuk dalam kategori stunting tetap membutuhkan perhatian. Penanganan dilakukan dengan melihat kondisi masing-masing anak, bukan semata berdasarkan perbandingan antarwilayah.
“Semua kasus tetap kita tangani dan kita pantau,” ujarnya.
Ia menjelaskan, data yang ada saat ini sebagian besar merupakan kasus lama. Dalam beberapa tahun terakhir, program penanganan stunting difokuskan pada penguatan intervensi di masa 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah munculnya persoalan pertumbuhan maupun memperburuk kondisi anak yang sudah teridentifikasi.
Puskesmas juga memberikan dukungan melalui pemberian makanan tambahan serta menghubungkan balita stunting dengan layanan dokter spesialis anak.
"Pendekatan itu dilakukan untuk memastikan kondisi anak dapat diperiksa secara lebih menyeluruh," papar Siti.
Siti menilai keberhasilan penanganan tetap sangat bergantung pada keterlibatan keluarga. Pemantauan dari tenaga kesehatan dan kader Posyandu perlu dilanjutkan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak di rumah.
Karena itu, capaian Jahab yang memiliki persentase lebih rendah tidak membuat upaya pengawasan dihentikan.
"Setiap balita tetap menjadi bagian dari pemantauan agar kondisi pertumbuhan mereka terus membaik," pungkasnya. (Adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)
adminKN 