Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Tantangan Pencegahan Stunting di Desa Kukar
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Upaya pencegahan stunting di wilayah perdesaan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak. Akses terhadap pelayanan kesehatan, air bersih, hingga keberadaan jamban keluarga yang sehat masih menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Sekretaris DP2KB Kabupaten Kutai Kartanegara, Sri Lindawati, mengatakan kondisi di wilayah desa memiliki tantangan yang berbeda dengan kawasan perkotaan. Salah satu persoalan yang perlu diperkuat adalah keterjangkauan masyarakat terhadap berbagai layanan dasar yang menunjang kesehatan keluarga.
“Kalau di desa mungkin lebih pada pemenuhan jangkauan akses pelayanan kesehatan,” ujar Sri Lindawati, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, akses pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting karena keluarga perlu mendapatkan pelayanan serta pemantauan kesehatan secara berkelanjutan. Kondisi geografis dan sebaran permukiman menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memastikan layanan dapat dijangkau masyarakat.
Selain layanan kesehatan, Sri menyebut pemenuhan akses air bersih sebagai persoalan lain yang perlu menjadi perhatian. Ketersediaan air bersih berkaitan dengan kebutuhan dasar keluarga sekaligus mendukung penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah tangga.
“Kemudian pemenuhan akses layanan air bersih ya seperti itu. Kemudian akses jamban keluarga yang sehat,” jelasnya.
Menurut Sri, kondisi lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pencegahan stunting. Pemenuhan kebutuhan dasar tersebut perlu berjalan bersama dengan intervensi kesehatan dan pengasuhan agar keluarga memiliki lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Persoalan sanitasi juga menjadi perhatian karena keluarga membutuhkan fasilitas jamban yang layak dan sehat. Ketersediaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari kondisi lingkungan rumah yang perlu dibangun untuk mendukung kesehatan keluarga.
Sri menilai pencegahan stunting pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak cukup hanya mengedukasi keluarga mengenai makanan bergizi, tetapi juga memastikan faktor pendukung seperti pelayanan kesehatan dan lingkungan tempat tinggal ikut diperhatikan.
“Kalau di desa mungkin seperti itu, penekanannya lebih pada akses pelayanan kesehatan dan layanan air bersih,” tegasnya.
Karena itu, penguatan pencegahan stunting di tingkat desa perlu melihat kondisi masing-masing wilayah. Persoalan akses layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi dapat menjadi bagian dari kebutuhan yang harus diperhatikan dalam pendampingan keluarga.
Bagi Sri, pemenuhan kebutuhan dasar tersebut menjadi bagian dari pekerjaan bersama dalam membangun lingkungan keluarga yang mendukung kesehatan anak.
"Ketika akses layanan dan kondisi lingkungan diperkuat, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih menyeluruh," pungkas Sri. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)
adminKN 