Konvergensi Stunting Kukar Terus Digarap, Pemantauan Balita Terus Diperkuat
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat pemantauan pertumbuhan balita sebagai bagian dari evaluasi penanganan stunting. Langkah ini menjadi perhatian karena data pemantauan rutin menunjukkan masih terdapat pekerjaan yang perlu diperkuat untuk memastikan seluruh balita terpantau secara berkala.
Berdasarkan laporan rutin program melalui aplikasi Sigizi Kesga, persentase balita stunting di Kukar tercatat 15,93 persen pada 2025, meningkat dari 14,64 persen pada 2024. Data tersebut merupakan hasil pemantauan rutin program, dengan penarikan data 10 Februari 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan penguatan pemantauan menjadi salah satu bagian penting dalam melihat kondisi balita di lapangan. Menurutnya, semakin baik pemantauan dilakukan, semakin cepat pula persoalan pertumbuhan dapat diketahui.
“Pemantauan status gizi terus diperkuat, agar kasus stunting dapat teridentifikasi lebih dini,” kata Ismi, Rabu (23/9/2026).
Data yang sama menunjukkan adanya perbaikan pada cakupan balita yang ditimbang di Posyandu. Pada 2024, rata-rata cakupan penimbangan atau D/S tercatat 48,34 persen. Angka itu meningkat menjadi 54,2 persen pada 2025. Namun, capaian tersebut masih menunjukkan bahwa sebagian balita belum mengikuti pemantauan pertumbuhan secara rutin.
Meski demikian, menurut pemantauan internal Dinas Kesehatan Kukar, angka konvergensi stunting per september 2026 sudah menyentuh angka 14,0 persen, dan bakal terus dikejar penurunannya menjelang akhir tahun.
"Sekarang di angka 14,0 persen, namun data ini masih di internal dan terus mengalami pergerakan," terang Ismi.
Bagi Dinas Kesehatan, pemantauan rutin bukan sekadar kegiatan pencatatan. Data individu balita yang tersedia melalui sistem tersebut dapat digunakan untuk mempercepat tindak lanjut apabila ditemukan masalah gizi, sehingga intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Ismi mengatakan penguatan pemantauan juga terus dilakukan melalui Posyandu. Pemerintah daerah berupaya mendorong masyarakat agar membawa balitanya secara rutin sehingga perkembangan berat dan tinggi badan anak dapat diketahui dari waktu ke waktu.
“Penguatannya itu di pemantauan status gizi yang dilakukan di posyandu,” ujarnya.
Perbaikan cakupan pemantauan menjadi penting karena keberhasilan penanganan stunting tidak cukup hanya dilihat dari satu angka prevalensi. Pemerintah juga perlu memastikan semakin banyak balita masuk dalam sistem pemantauan sehingga kondisi yang membutuhkan penanganan dapat ditemukan lebih cepat.
Di sisi lain, data 2025 menunjukkan masih adanya tantangan. Kenaikan cakupan D/S memang menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi cakupannya belum menyentuh seluruh balita. Kondisi ini membuat penguatan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dari pekerjaan ke depan.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kukar terus mendorong agar Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan, tetapi juga menjadi pintu masuk pemantauan pertumbuhan anak secara berkelanjutan.
“Dalam perkembangannya, akan semakin kita kejar untuk penguatan pemantauan status gizi nya,” pungkas Ismi. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)
adminKN