Angka Stunting di Anggana Turun Jadi 10 Persen, Puskesmas Perkuat Penanganan Anak
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Angka stunting di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Ahli Gizi Puskesmas Sungai Mariam, Ademai Nurhayati, prevalensi stunting di wilayah tersebut turun dari 14 persen menjadi 10 persen pada 2026.
Ademai menyebut, Penurunan itu menjadi salah satu indikator perkembangan upaya penanganan stunting yang dilakukan melalui Puskesmas, Posyandu, pemerintah desa, serta keterlibatan keluarga. Meski demikian, persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai karena masih terdapat sekitar 240–260 anak mengalami stunting dari total 2.700–2.800 balita di wilayah kerja Puskesmas Sungai Mariam.
Ademai menyebut, capaian tahun ini melanjutkan tren perbaikan yang sudah terlihat sejak tahun sebelumnya. “Tahun kemarin kita turun ke 11 persen. Nah, tahun ini kita Kecamatan Anggana itu di angka 10 persen angka stunting-nya,” ujarnya.
Ademai berujar, jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, penurunan ini mencapai sekitar empat poin persentase. Namun, angka itu tetap perlu diikuti dengan penanganan terhadap anak-anak yang masih masuk kategori stunting agar perbaikan tidak berhenti pada penurunan angka statistik.
Menurutnya, jumlah kasus di wilayah kerja Puskesmas Sungai Mariam masih mengalami perubahan, karena temuan dalam setiap pemantauan bulanan pasti mengalami fluktuasi.
“Kalau jumlah anaknya itu memang bisa berubah-ubah setiap bulan, karena kita melakukan pemantauan dan pengukuran secara rutin,” katanya.
Ia menjelaskan, penanganan tidak hanya diarahkan kepada anak yang sudah teridentifikasi mengalami stunting, tetapi juga pada upaya mencegah kondisi tersebut sejak masa kehamilan. Pemantauan pertumbuhan, pemenuhan gizi, serta pemeriksaan kesehatan ibu dan anak menjadi bagian dari rangkaian intervensi yang saling berkaitan.
“Jadi bukan hanya anak yang sudah stunting saja yang kita perhatikan. Ibu hamil juga harus kita pantau, karena pencegahannya memang harus dimulai sejak awal,” paparnya.
Ademai berharap keluarga tidak mengabaikan pemantauan pertumbuhan anak meskipun kondisi fisiknya terlihat sehat. Menurutnya, pengukuran secara berkala diperlukan untuk mengetahui perkembangan tinggi dan berat badan anak, sekaligus mendeteksi lebih awal apabila pertumbuhannya tidak sesuai standar.
“Yang penting tetap pantau pertumbuhan perkembangan anak di Posyandu. Jangan sampai nanti ketika sudah diketahui stunting, penanganannya justru terlambat,” pesannya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/kn1/rhi)
adminKN 