Puskesmas Mangkurawang Catat 104 Anak Stunting hingga September 2026

Puskesmas Mangkurawang Catat 104 Anak Stunting hingga September 2026

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Puskesmas Mangkurawang mencatat 104 anak mengalami stunting berdasarkan rekapitulasi data kumulatif sejak Januari hingga September 2026. Data tersebut berasal dari tujuh wilayah kerja yang mencakup lima kelurahan dan dua desa di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

 

Ahli Gizi Puskesmas Mangkurawang, Dhila, mengatakan jumlah tersebut merupakan akumulasi pencatatan selama sembilan bulan. Karena itu, angka 104 tidak serta-merta menggambarkan jumlah anak yang saat ini masih mengalami stunting.

 

“Data yang kami sampaikan ini merupakan data dari Januari sampai September 2026. Jadi, sifatnya kumulatif dari hasil pemantauan selama periode tersebut,” ungkapnya.

 

Dhila menjelaskan, berdasarkan rincian wilayah, Kelurahan Loa Tebu mencatat jumlah tertinggi dengan 29 anak, disusul Kelurahan Mangkurawang sebanyak 26 anak. Selanjutnya, Kampung Baru mencatat 16 anak, Sukarame 12 anak, Panji 10 anak, Rapak Lambur 9 anak, dan Bendang 2 anak.

 

“Kalau berdasarkan jumlahnya, Loa Tebu ada 29 anak, sedangkan Mangkurawang 26 anak. Kemudian wilayah lainnya tersebar dengan jumlah yang berbeda-beda,” jelas Dhila.

 

Ia menerangkan, angka dalam rekapitulasi tidak selalu menunjukkan kondisi terkini setiap anak. Sebagian anak yang sebelumnya masuk dalam pencatatan stunting dapat mengalami perbaikan setelah menjalani pemantauan dan penanganan.

 

“Anak-anak yang sudah mengalami perbaikan tetap bisa tercatat dalam data kumulatif. Jadi, perlu dibedakan antara catatan selama satu periode dengan jumlah kasus yang masih aktif,” katanya.

 

Menurut Dhila, pembacaan data stunting juga perlu mempertimbangkan jumlah balita yang ditimbang dan diukur di masing-masing wilayah. Wilayah dengan jumlah anak stunting lebih sedikit belum tentu memiliki persentase lebih rendah apabila jumlah balita yang menjadi pembanding juga berbeda.

 

“Jumlah kasus dan persentase itu berbeda. Untuk melihat persentase, kita harus mengetahui juga berapa jumlah seluruh balita yang ditimbang atau diukur di wilayah tersebut,” terangnya.

 

Karena itu, ia menilai data jumlah kasus perlu dibaca secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru mengenai kondisi setiap wilayah. Pemantauan secara berkala tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan anak sekaligus menentukan tindak lanjut yang sesuai.

 

“Yang paling penting, anak tetap dibawa ke Posyandu setiap bulan. Dengan begitu, pertumbuhan mereka bisa dipantau dan kalau ada penyimpangan bisa segera diketahui,” tutupnya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/kn/rhi)