Tiga Wilayah Jadi Lokus Distanak Kukar Tangani Stunting 2026
kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menetapkan tiga wilayah sebagai lokus intervensi penanganan stunting pada 2026. Penetapan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah memastikan dukungan pangan bergizi dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara, Moh. Rifani mengatakan, tiga wilayah yang menjadi lokus pada 2026 yakni Kelurahan Bukit Biru di Kecamatan Tenggarong, SP1 di Kecamatan Kota Bangun Darat, serta Desa Margahayu di Kecamatan Loa Kulu.
“Kalau penanganan stunting ini kalau di 2026, itu di Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, SP1 Kota Bangun Darat serta Desa Margahayu di Kecamatan Loa Kulu,” kata Rifani, Senin (21/9/2026).
Menurut Rifani, penetapan wilayah tersebut tidak dilakukan secara sembarangan. Distanak Kukar sebelumnya telah melakukan proses seleksi dan penyaringan sebelum menentukan wilayah yang menjadi sasaran intervensi.
“Iya, ada seleksi. Terus yang kedua ada filter-filter yang harus kita lakukan,” jelasnya.
Setelah lokus ditetapkan, intervensi Distanak Kukar diarahkan pada penguatan sektor peternakan. Bantuan yang diberikan antara lain berupa bibit ternak, pakan ternak serta penguatan kawasan yang mendukung ketersediaan pakan.
Rifani menjelaskan, pendekatan tersebut ditempuh karena Distanak memiliki posisi pada sisi hulu dalam rantai pemenuhan pangan. Dengan memperkuat produksi peternakan, ketersediaan telur dan daging diharapkan dapat lebih terjamin untuk mendukung kebutuhan pangan bergizi di wilayah intervensi
"Distanak Kukar lebih ke Hulu, lebih ke penyediaan Telur dan Daging," papar Rifani.
Selain penanganan stunting, penguatan produksi peternakan juga berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan pangan akibat berkembangnya program MBG dan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kukar.
Rifani mengatakan kebutuhan telur dan daging memang terus meningkat, sementara produksi lokal belum sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan usaha peternakan di daerah.
“Kalau kebutuhan daging memang kita belum bisa memenuhi keseluruhan. Tapi insyaallah dengan masifnya kita membuat program untuk ketahanan pangan, khususnya pembangunan kandang ayam petelur, mudah-mudahan itu bisa teratasi,” tuturnya.
Menurutnya, penguatan produksi di wilayah yang menjadi lokus sekaligus menjadi bagian dari upaya memperpendek kesenjangan pasokan pangan. Distanak berharap intervensi yang dilakukan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat sekaligus memperkuat produksi peternakan lokal.
“Jadi salah satu indikatornya adalah yang kurangnya pasokan tadi. Itulah alasan kenapa ada lokus Bukit Biru, SP1 dan Margahayu,” pungkas Rifani. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi).
adminKN