Ibu Hamil dengan KEK dan Anemia Jadi Sasaran Intervensi Gizi dan Pencegahan Stunting

Ibu Hamil dengan KEK dan Anemia Jadi Sasaran Intervensi Gizi dan Pencegahan Stunting

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Puskesmas Mangkurawang memberikan perhatian khusus terhadap ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) maupun anemia. Kedua kondisi tersebut menjadi sasaran intervensi gizi karena pemenuhan kebutuhan nutrisi selama kehamilan berperan penting untuk mendukung kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam upaya penanganan stunting di Kutai Kartanegara.

 

Ahli Gizi Puskesmas Mangkurawang, Dhila, mengungkapkan, ibu hamil dengan KEK akan mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Sementara itu, ibu hamil yang mengalami anemia akan diberikan tablet tambah darah sebagai bagian dari penanganan sesuai kondisi kesehatannya.

 

“Untuk ibu hamil yang mengalami KEK, ada pemberian makanan tambahan. Sedangkan kalau mengalami anemia, diberikan tablet tambah darah untuk membantu mengatasi kekurangan zat besi,” ujarnya.

 

Menurut Dhila, intervensi tersebut perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan masing-masing ibu hamil. Penanganan tidak dapat disamaratakan karena kebutuhan dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda.

 

Ia menejelaskan, pada ibu hamil yang mengalami anemia, pemberian TTD dilakukan secara rutin berdasarkan kondisi dan arahan tenaga kesehatan. Dosis maupun frekuensi konsumsi perlu mengikuti hasil pemeriksaan serta petunjuk petugas yang menangani.

 

"Ibu hamil yang mengalami KEK dan anemia perlu mendapatkan perhatian. Untuk yang anemia, pemberian TTD dilakukan setiap hari yang dosisnya disesuaikan dengan tingkat anemia dan arahan tenaga kesehatan,” katanya.

 

Dhila menegaskan, pemberian PMT bagi ibu hamil dengan KEK juga diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan asupan selama masa kehamilan. Makanan tambahan menjadi salah satu bentuk dukungan agar kebutuhan gizi ibu dapat lebih diperhatikan.

 

“PMT diberikan kepada ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis. Tujuannya membantu memenuhi kebutuhan asupan gizi selama kehamilan dan intervensi stunting sejak dini,” terangnya.

 

Dhila berujar, pemantauan kondisi ibu hamil tetap diperlukan selama intervensi berlangsung. Dengan pemeriksaan berkala, tenaga kesehatan dapat melihat perkembangan kondisi ibu sekaligus menentukan apakah penanganan perlu dilanjutkan atau disesuaikan.

 

“Pemberian makanan tambahan maupun tablet tidak bisa dilepaskan dari pemantauan. Kondisi ibu harus terus diperiksa agar penanganannya sesuai kebutuhan,” ungkap Dhila.

 

Upaya tersebut, Kata Dhila, juga berkaitan dengan pencegahan stunting pada anak sejak masa kehamilan. Sebab, pemenuhan kebutuhan gizi ibu menjadi salah satu bagian penting dalam periode awal kehidupan anak.

 

“Pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan. Kondisi ibu perlu dijaga karena akan berpengaruh terhadap perkembangan janin,” tuturnya.

 

Dhila mengingatkan ibu hamil agar rutin memeriksakan kehamilan dan mengikuti arahan petugas kesehatan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui lebih awal apabila ditemukan masalah gizi maupun kondisi kesehatan lain yang membutuhkan penanganan.

 

“Jangan menunggu sampai ada keluhan baru memeriksakan diri. Ibu hamil perlu rutin memeriksakan kehamilan supaya kondisi kesehatan dan kebutuhan gizinya bisa dipantau,” pungkasnya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/kn1/rhi)